Jumat, 22 Januari 2016

mobil seken

 Membeli mobil bekas, hati-hati dapat kendaraan bekas terendam banjir. Jangan sampai kepingin untung malah buntung gara-gara tergiur harga murah, tetapi belakangan buang uang untuk reparasi.

"Mobil yang sudah pernah terendam banjir pasti nanti ada masalah, apakah korslet atau masalah lainnya, meski sudah diperbaiki," ungkap Chief Operation Officer mobil88 Halomoan Fischer Lumbantoruan.

Pembeli akan dihadapkan dengan mesin dan kerangka yang berkarat, turun mesin, sistem engine control unit (ECU) rusak, dan masalah kebersihan dalam mobil.

"Komponen-komponen yang harus diganti itu biayanya mahal,” ujar Fischer.

Hitungan reparasi
Membeli mobil bekas tentu saja sah bila menyiapkan dana untuk reparasi. Bisa jadi, ada aksesori yang ingin diganti karena beda selera dengan pemilik lama. Atau, malah sekalian mau upgrade tampilan ataupun kemampuan kendaraan, mumpung dapat harga lebih murah daripada beli baru. Tinggal dihitung seberapa banyak dana itu yang layak dipertimbangkan.

Untuk usia mobil bekas di bawah dua tahun, estimasi perbaikan kurang lebih Rp 1 juta sampai Rp 2 juta. Adapun untuk usia 3 tahun sampai 4 tahun, mobil biasanya sudah mengalami sedikit gangguan di ban, karet pintu, kanvas rem, baret pada bodi, sarung jok, atau kaki-kaki. Estimasi biaya perbaikan bisa mencapai Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.

Hitungan biaya itu adalah harga untuk mobil bekas tak bermasalah. Nah, bagi mobil bekas terendam banjir nominalnya bisa berlipat kali karena ada ongkos untuk perbaikan atau bahkan penggantian komponen.

Penggantian ECU—komponen paling rawan rusak karena terendam banjir—saja butuh biaya minimal Rp 1,5 juta. Pada akhirnya, total biaya perbaikan dan penggantian komponen gara-gara mobil pernah terendam banjir bisa puluhan juta rupiah, hanya untuk kembali layak laju.

Harga mobil bekas yang ketahuan pernah terendam banjir akan lebih rendah hingga 40 persen dibandingkan pasaran. Itulah alasan bagi calon pembeli untuk mewaspadai penawaran mobil bekas yang terlalu murah.

Jaminan dan detail
Untuk meminimalkan risiko salah beli mobil bekas “sisa” rendaman banjir, Fischer menyarankan calon pembeli cermat mencari tempat penjualan yang memberi jaminan keamanan, termasuk untuk urusan terkait banjir, dokumen, dan kondisi kendaraan. Dia pun menegaskan, tempat usahanya memberikan jaminan semacam itu.

KOMPAS.com / Dani J Tiga komplek perumahan di seputaran Jalan Manunggal Kelurahan Damai Balikpapan dihantam banjir sepanjang hari setelah hujan deras selama dua jam mengguyur kota Balikpapan.


“Di tempat kami, konsumen tidak perlu khawatir, semua mobil sudah kami saring sedemikian rupa. Kalaupun masih bermasalah, perusahaan kami siap mengganti mobil atau mengembalikan uang pembelian,” kata Fischer.

Selain tempat membeli, calon pembeli harus pula memeriksa mobil secara mendetail. Pertama, cek bodi mobil dari bagian tengah hingga ke bawah. Rendaman banjir biasanya meninggalkan bekas garis pada mobil.

Kedua, cek interior mobil. Rendaman banjir meninggalkan aroma tidak enak dan kabin kendaraan terasa lembab. Sayangnya, ciri ini lebih susah ketahuan karena rata-rata pemilik lama kendaraan sudah membersihkan dan mendandani mobil itu.

Ketiga, jangan segan membuka karpet dalam mobil termasuk di bagasi. Bila pernah terendam banjir, biasanya masih ada sisa lumpur atau pasir kering di sana. Karpetnya pun bisa jadi penanda, karena kerak bekas banjir tetap tertera sekalipun karpet sudah dicuci berkali-kali.

Selanjutnya, untuk meyakinkan, cek juga Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Lihat identitas dan alamat pemilik lama mobil, ketahui wilayah tempat tinggalnya. Dari situ, periksa apakah domisili pemilik lama ada di wilayah banjir atau bukan.

Terakhir, bandingkan komponen yang ada di mobil incaran dengan gambar di buku petunjuk pemakaian (manual book) atau informasi produk. Bila terlihat berbeda berarti komponen sudah diganti, yang kemungkinan besar karena pernah bermasalah serius.

Senin, 11 Januari 2016

KARYA ILMIAH

Skripsi dijadikan syarat kelulusan di program S-1  dengan maksud memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan bahwa dia dapat menerapkan langkah-langkah pendekatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan dan melaporkannya secara tertulis.  Biasanya, dalam skripsi tidak dituntut adanya sintesis baru atau penemuan baru.Thesis dijadikan syarat kelulusan di program S-2 dengan maksud memberikan kesempatan kepda mahasiswa untuk menunjukkan bahwa dia dapat mebuat suatu sintesis baru atau penerapan pengetahuan yang sudah ada, dan melaporkannya secara tertulis.Disertasi dijadikan syarat kelulusan di program S-3 dengan maksud memberikan kesempatan kepda mahasiswa untuk menunjukkana bahwa dia memahami (mengikuti) perkembangan mutakhir pengetahuan ilmiah di bidang ilmunya  dan memberikan sumbangan pada perkembangan ilmu itu melalui penemuan baru yang orisinal yang dilaporkannya secara tertulis (http://www.pendidikanislam.net/index.php/untuk-siswa-a-mahasiswa/40-penelitian/60-skripsi-apakah-itu).
Pada dasarnya skripsi mahasiswa S1 merupakan ajang latihan bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian secara obyektif. Oleh karena baru pertama sekali meneliti maka mahasiswa S1 ini sangat membutuhkan bimbingan dosen agar tidak melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan mereka harus mengulang. Tesis S2 merupakan ajang peningkatan kemampuan mahasiswa dalam meneliti dan diharapkan mahasiswa sudah mampu meneliti dengan bimbingan yang minimal dari dosen. Desertasi S3 merupakan pembuktian kemampuan mahasiswa S3 dalam meneliti secara mandiri.
Secara sederhana, skripsi itu menjawab apa, tesis menjawab apa dan mengapa, Dan disertasi itu menjawab apa, mengapa dan bagaimana. Contoh tentang penelitian daun katuk dalam menurunkan kolesterol telur. Skripsi hanya menjawab pertanyaan apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur? Tesis itu menjawab dua pertanyaan, yaitu a) apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur dan; b) mengapa daun katuk menurunkan kolesterol. Disertasi menjawab 3 pertanyaan, yaitu: a) apakah daun katuk menurunkan kolesterol telur?; b) mengapa daun katuk menurunkan kolesterol telur? Dan; c) bagaimana cara (mekanisme) daun katuk menurunkan kolesterol telur?
Seringkali dosen pembimbing lupa akan hal tersebut, sehingga sering meminta mahasiswa meneliti lebih dari seharusnya. Apa alasannya? Pertama, mungkin dikarenakan ketidaktahuannya dan pengalamannya sebagai mahasiswa dulu juga seperti itu. Sebagai contoh, dosen pembimbing meminta mahasiswa S1 untuk menjawab selain apa juga mengapa. Kedua, dosen pembimbing sudah tahu hal ini tetapi dikarenakan ia menginginkan data penelitian lebih, maka ia memaksakannya pada mahasiswa bimbingannya. Mungkin sang dosen bermaksud data tersebut akan dipublikasikan dimana ia sebagai penulis utamanya. Mungkin juga dosen mempunyai alasan yang lain.
Apapun alasannya, sesungguhnya dosen tidak dibenarkan untuk memaksa mahasiswa di luar ketentuan atau kesepakatan yang berlaku. Jika menginginkan data yang lebih akurat dan lebih banyak untuk menjawab permasalahan yang ada, maka sebaiknya dosen membuat proposal penelitian sendiri dan mengajukannya ke Dikti atau ke penyandang dana lainnya. Ia harus berkompetisi untuk memperoleh dana penelitian.
Tabel 1.  Perbedaan Umum antara Skripsi, Tesis dan Disertasi
NoAspekSkripsiTesisDisertasi
1JenjangS1S2S3 (tertinggi)
2PermasalahanDapat diangkat dari pengalaman empirik, tidak mendalamDiangkat dari pengalaman empirik, dan teoritik, bersifat  mendalamDiangkat dari kajian teoritik yang didukung fakta empirik, bersifat sangat mendalam
3Kemandirian penulis60% peran penulis, 40% pembimbing80% peran penulis, 20% pembimbing90% peran penulis, 10% pembimbing
4Bobot IlmiahRendah – sedangSedang – tinggi.  Pendalaman / pengembangan terhadap teori dan penelitian yang adaTinggi, Tertinggi dibidang akademik.   Diwajibkan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
5PemaparanDominan deskriptifDeskriptif dan AnalitisDominan analitis
6Model AnalisisRendah – sedangSedang – tinggiTinggi
7Jumlah rumusan masalahSekitar 1-2Minimal 3Lebih dari 3
8Metode / Uji statistikBiasanya  memakai uji Kualitatif / Uji deskriptif, Uji statistik parametrik (uji 1 pihak, 2 pihak), atau Statistik non parametrik (test binomial, Chi kuadrat, run test), uji hipotesis komparatif, uji hipotesis asosiatif, Korelasi, Regresi, Uji beda, Uji Chi Square, dllBiasanya memakai uji Kualitatif  lanjut  /  regresi ganda, atau korelasi ganda, mulitivariate, multivariate lanjutan (regresi dummy, data panel, persamaan simultan, regresi logistic, Log linier analisis,  ekonometrika static & dinamik, time series ekonometrik) Path analysis, SEMSama dengan tesis dengan metode lebih kompleks, berbobot yang bertujuan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan
9Jenjang Pembimbing/ PengujiMinimal MagisterMinimal Doktor dan Magister yang berpengalamanMinimal Profesor dan Doktor  yang berpengalaman
10Orisinalitas penelitianBisa replika penelitian orang lain, tempat kasus berbedaMengutamakan orisinalitasHarus orisinil
11Penemuan hal-hal yang baruTidak harusDiutamakanDiharuskan
12Publikasi hasil penelitianKampus Internal dan disarankan nasionalMinimal NasionalNasional dan Internasional
13Jumlah rujukan / daftar pustakaMinimal 20Minimal 40Minimal 60
14Metode / Program statistik yang biasa digunakanKualitatif / Manual, Excel, SPSS dllKualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dllKualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll

Senin, 21 Desember 2015

Kendaraan ditarik Leasing

Seperti kita ketahui perusahaan pembiayaan adalah sebuah badan usaha yang dapat menjadi perantara pembelian barang, misalnya saja kendaraan pribadi, dengan cara angsuran atau kredit. Keberadaan perusahaan ini memang memudahkan masyarakat. Tapi beda kasus jika angsuran tidak lancar akibat terlalu konsumtif, dan berakibat pada kredit macet.
Mau tidak mau kendaraan pribadi yang tengah diangsur harus disita. Jika kejadian tidak enak tersebut memang harus terjadi, apa yang harus dilakukan? Berikut tips OJK:
1. Mintalah identitas petugas eksekusi
2. Mintalah surat tugas atau surat kuasa eksekusi dan dokumen terkait, seperti copy : perjanjian, sertifikat fidusia, riwayat pembayaran, dan Surat Peringatan 1 sampai dengan 33. Cocokan data identitas dan surat tugas serta data obyek jaminan yang akan dieksekusi tersebut4. Jika data tidak sesuai, maka Debitur berhak menolak petugas tersebut dan segeralah menghubungi Perusahaan Pembiayaan terkait untuk meminta klarifikasi. Namun jika data sesuai, selanjutnya pastikan memang Debitur Didera Janji (menunggak pembayaran)5. Jika Debitur tidak menunggak, tunjukan bukti pembayaran dan segera minta petugas eksekusi mengklarifikasi kepada perusahaan pembiayaan yang memberikan penugasan
6. Jika debitur memang menunggak, maka ada 2 opsi penyelesaian yang dapat dipilih:
  • Debitur akan melunasi seketika seluruh hutang pembiayaan, atau
  • Menyerahkan obyek jaminan Fidusia untuk dieksekusi, dimana hasil lelangnya nanti akan dikompensasikan dengan kewajiban debitur (jika nilainya lebih akan dikembalikan, namun jika kurang wajib dilunasi kekurangannya)
7.Jika debitur memutuskan untuk menyerahkan obyek jaminan fidusia, maka obyek tersebut dapat diserahkan kepada petugas eksekusi yang sah, dengan terlebih dahulu memeriksa dan mengambil barang milik pribadi Debitur (jika ada) dan menandatangani Berita Acara Penyerahan Kendaraan (BAPK) sebagai pihak yang menyerahkan. Pastikan meminta 1 (satu) copy BAPK, yang juga terdapat tanda tangan petugas eksekusi sebagai pihak yang menerima.8. Jika debitur memutuskan untuk melunasi seketika, maka atas kesepakatan dengan petugas yang berwenang di kantor perusahaan pembiayaan, dapat membayar pelunasannya ke rekening perusahaan pembiayaan secara langsung dan tidak diperkenankan menitipkan pada petugas eksekusi;9. Pelunasan seluruh kewajiban debitur secara seketika harus dilakukan segera guna menghindari dilakukannya pelelangan.
10. Jika petugas eksekusi perusahaan pembiayaan melakukan tindakan melawan hukum dalam melakukan proses eksekusi, maka debitur dapat menghubungi aparat yang berwajib untuk meminta perlindungan hukum.

Selasa, 15 Desember 2015

Iuran Jaminan Pensiun

Program Jaminan Pensiun (JP) telah digulirkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan).Program ini efektif berjalan 1 Juli 2015 yang diharapkan pekerja bisa menjamin kesejahteraan mereka ketika tidak lagi bekerja (pensiun).
Program Dana Pensiun tak lain merupakan tabungan sebagian pendapatan pekerja yang disisihkan selama mereka sebagai bekal pasca pensiun. Sejatinya, JP tak lain merupakan pendapatan bulanan yang disisihkan ‘secuil’ memasuki hari tua. Nantinya, uang pensiun ini bakal dicairkan setelah mereka memasuki usia 56 tahun.
 “Programnya memang muluk, tetapi saya tidak berani berangan-angan, apalagi berharap bisa menikmati itu.Tahu saja pemerintah kita, walapun sudah ada ada aturannya, belum tentu bisa direalisasikan. Apalagi sekarang ini pemerintah tiap 5 tahun berganti, maka akan berganti pula kebijakannya.”
Lalu yang menjadi pertanyaaan, berapa besaran uang pensiun yang akan diterima? Tentunya, sangat tergantung pada besarnya iuran serta lamanya waktu peserta mengikuti program JP. Menurut Dirut BPJS Ketenagakerjaan Elvyn G Massasya, minimal peserta harus mengikuti program JP sekitar 15 tahun supaya pekerja bisa mendapatkan uang pensiun setiap bulan nantinya.
Pemerintah telah sepakat dan menetapkan keputusan bahwa besaran iuran untuk program JP sebesar 3 persen per bulan dari gaji pokok. Dari nilai itu pekerja mengiur sebesar 1 persen  sisanya sebesar 2 persen ditanggung perusahaan. Tentunya, dengan nilai  upah maksimum  yang dilaporkan sebesar Rp7 juta.
Tentunya tidak menutup kemungkinan jika pekerja tertarik  mengikuti program dana pensiun yang diselenggarakan pihak swasta. Dari besaran itu, besaran nilai pensiun yang diterima pekerja berkisar 40 persen dari gaji pokok yang mereka ‘kantongi’ setiap bulan.
Karena program JP yang dicover BPJS Ketenagakerjaan bersifat manfaat pasti, tentunya pekerja harus mengiur paling tidak dengan masa kerja selama 15 tahun. Akan tetapi, untuk pekerja dengan masa kerja di bawah 15 tahun, tetap berkesempatan mengiur sampai 15 tahun secara mandiri. Jika dua pilihan itu tidak diambil, Elvyn menyatakan, pekerja bisa mengambil pensiunnya sekaligus (lumpsum).
BPJS Ketenagakerjaan sendiri tentunya tidak membatasi pekerja yang berusia 40 tahun dengan masa kerja 15 tahun dalam mendapatkan JP berkaitan dengan hak-hak pensiun pekerja.Pekerja yang sudah terdaftar sebagai peserta program pensiun, baik bagi pekerja yang berusia 40 tahun atau lebih, walaupun baru satu bulan terdaftar pada BPJS Ketenagkerjaan kemudian meninggal dunia, baik pekerja ataupun ahli warisnya berhak mendapatkan JP.
Standar ILO,Mestinya JP Harus Mampu Menutup Kebutuhan Dasar
Hanya saja, ada yang menggajal para peserta JP ketika pemerintah menetapkan besaran iuran hanya sekitar 3 persen dan akan ditinjau dan dinaikan persentasenya dalam 3 tahun mininimal hingga 8 persen.
Sesuai tujuan pemerintah mendisain program dana pensiun,tentunya tujuan akhirnya harus mampu menjamin dan menutupi kebutuhan dasar para pensiunan pasca tak lagi bekerja.
Jika kita bandingan nilai iuran yang ditetapkan pemerintah dengan tandar yang ditetapkan Internastional Labour Organisasi (ILO), ternyata masih jauh ‘panggang dari api’. Karena, idealnya dari standar ILO dimaksud, pekerja memasuki usia pensiun setidaknya  bakal memperoleh penghasilan antara 70 persen–80 persen dari penghasilan bulan terakhir.
Nilai ini didapat dari program jaminan pensiun setelah bekerja lebih kurang 35-40 tahun dengan usia pensiun 60-65 tahun. Dengan tingkat penghasilan pensiun (TPP) sebesar 40 persen dari penghasilan bulan terakhir masa kerja diharapkan akan mampu mencukup kebutuhan hidup dasar.
Kenyataannya, dengan iuran JP sebesar 3 persen, otomatis para pensiunan di negeri belum bisa menikmati kesejahteraan yang hakiki pasca pensiun. Betapa tidak,standar ILO belum bisa dipenuhi pemerintah sebagai pembuat regulasi mengingat jumlah pekerja formal dan informal yang sangat timpang dan tingkat upah yang diberlakukan pemberi kerja masih rendah tentunya akan sulit mewujudkan kesejahteraan  para pensiunan ini kelak.
Program JP Dirasa Pekerja Masih Mengawang  
Hasrat pekerja ingin sejahtera pasca pensiun  mereka rasakan masih seperti diawang-awang.Apalagi melihat kenyataan selama ini 4 program jaminan sosial yang dikelola BPJS Ketenagakerjaan dalam bentuk  Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) / per 1 Januari 2014 telah diserahkan pengelolaanya kepada BPJS Kesehatan serta Jaminan Hari Tua (JHT) belum berdaya mencover semua pekerja di Indonesia yang jumlahnya menembus angka  121,9 juta pekerja.
Data Biro Pusat Statistik (BPS) pertengahan Juli 2015,jumlah angkatan kerja sudah mencapai  121.9 juta orang Sementara penduduk yang bekerja mencapai 114,63 juta orang (terdiri dari pekerja formal mencapai 42,38 juta orang dan pekerja informal mencapai 72.25 juta orang).
Realitanya,jumlah peserta BPJS Ketenagakerjaan tak lebih dari 37 persen dari mereka yang bekerja di sektor formal. Sisanya sekitar 63 persen pekerja informal terpaksa ‘berjibaku’ membanting tulang sebagai buruh kasar,pekerja tidak tetap,pekerja keluarga dan pekerja serabutan yang terus berjaung menyelamatkan hidup mereka.
Ironisnya, dari jumlah pekerja formal itupun yang mampu dicover jaminan sosial dari BPJS Ketenagakerjaan, hanya sekitar 40 juta pekerja. Kenyataan ini justru ‘menciutkan’ angan-angan pekerja pasca pensiun bisa terjamin kesejahteraannya.
“Programnya memang muluk, tetapi saya tidak berani berangan-angan, apalagi berharap bisa menikmati itu.Tahu saja pemerintah kita, walapun sudah ada ada aturannya, belum tentu bisa direalisasikan. Apalagi sekarang ini pemerintah tiap 5 tahun berganti, maka akan berganti pula kebijakannya,” tutur Muchlis (45) salah satu pekerja di pabrik Garmen, di Kawasan Berikat Nusantara, Cakung Cilincing, Jakarta Utara, dengan lugunya.
Sebenarnya, kalau saja pemerintah ikhlas dan serius benar-benar ingin menjamin kesejahteraan pekerja saat pensiun  akan lebih baik jika pola jaminan pensiun ditetapkan dalam bentuk wajib maupun sukarela.
Tentunya, jika program ini diwajibkan, harus dipastikan ketika mereka mengikuti program JP, para pensiunan mampu memenuhi TPP sebesar 40 persen dan sisanya sekitar 30-40 persen TPP ditutupi dari program sukarela.
Kalau seperti saat ini dengan besaran iuran JP antara 3- 4 persen dari upah, pensiunan hanya bisa mendapatkan TPP JP antara 10- 15 persen dari penghasilan terakhir. Sisanya 25-30 persen  TPP) baru bisa dipenuhi melalui dana Jaminan Hari Tua (JHT) dan imbalan pesangon.
Jika disesuaikan dengan standar ILO, sebenarnya, pekerja dan pengusaha wajib mengiur sekitar 18 persen yang dibagi menjadi iuran JP 4 persen, iuran JHT, 6 persen dan  iuran imbalan pesangon sebesar 8 persen.Dengan bgeitu, baik pemberi kerja maupun pekerja mampu menjangkau pembayaran iuran dan bisa menutupi kebutuhan hidup minimum di masa tua (pensiun) kelak.
Apakah JP Menyentuh Pekerja Infomal?
Jika berbicara soal kesejahteraan pekerja, semestinya, kebijakan pemerintahan melalui JP tidak memilah antara pekerja formal dan informal.Apalagi di republik tercinta ini jumlah pekerja informal lebih besar ketimbang pekerja informal. Sungguh tidak adil rasanya jika yang menjadi prioritas pelayanan hanya bagi mereka yang bekerja di sektor formal semata.
Yang menggelitik, justru bagaimana nasibnya pekerja informal? Siapa yang harus menanggung iuran program BPJS Ketenagakerjan yang ada. Apa mereka harus berjuang sendiri mengiur? Jangankan memikirkan nilai iuran program BPJS  Ketenagakerjaan, untuk memenui kebutuhan sehari-hari dari hasil pekerjaan mereka yang tidak menentu saja sudah setengah mati. Kalaupun ada nilai pendapatan mereka bahkan tidak bisa menyamai Upak Minimum Provinsi, lalu bagaimana nasib mereka?
Bahkan Elvyn sendiri hanya mengungkapkan peserta Jaminan Pensiun BPJS Ketenagakerjaan adalah semua pekerja dengan besaran upah di bawah Rp16 juta per bulan, baik pekerja swasta maupun PNS dan TNI/Polri.Karena sesuai Peraturan perundangan menyatakan sifat kepesertaan mandatory (wajib), bukan pilihan.
Dengan kewajiban dimaksud, harapannya bisa berdampak pada peningkatan jumlah peserta dan pengelolaan dana yang dihimpun BPJS ketenagakerjaan kelak. Elvyn,mengakui Peraturan pemerintah tentang Jaminan Pensiun tetap akan ditinjau setiap 3 tahun. Dan akan terus ditingkatkan nilai persentasenya.
Akan tetapi, pemerintah tidak bisa mengabaikan mereka yang tak tercakup ke dalam program  JP ataupun program lainnya. Pemerintah harus memastikan,perluasan cakupan program dan peningkatan kepesertaan,bisa menjangkau pekerja (sustainability),yang jumlahnya mencapai 114,63 juta pekerja.
Program ini harus bisa memberikan manfaat maksimal (adequancy) dengan nilai iuran yang terjangkau (affordability.) bagi semua pihak baik pekerja maupun pemberi pekerja.Rakyat pekerja ini sangat banyak berharap pada pemerintah dalam mendisain kebijakan yang murni bertujuan menyejahterakan seluruh pekerja, bukan segelintir pekerja saja. Kebijakan ini juga mereka harapkan tidak bersifat parsial tetapi berlaku universal untuk kesejahteraan rakyat.

Senin, 14 Desember 2015

Dana untuk bermusik

Musik bukan sekadar sarana hiburan yang mengisi saat sepi atau memberi semangat. Ada banyak manfaat yang diperoleh melalui musik. Penelitian menyebutkan belajar musik akan meningkatkan kemapuan otak kanan anak sehingga lebih cerdas dalam menangkap harmoni dan keindahan dalam bentuk suara atau lainnya. Kecerdasan estetik tersebut banyak bermanfaat buat anak-anak sehingga lebih peka dalam menangkap nilai-nilai kehidupan. Di sisi lain, kini bermusik bisa menjadi ladang pendapatan yang juga menjanjikan. Meski popularitasnya tidak secepat penyanyi, pemusik memiliki ruang yang juga cukup lebar dalam mengembangkan profesi. Dari sekadar arranger, hingga menjadi komposer atau memimpin orkestra. Banyak bisnis di dunia hiburan yang bisa diperoleh berbekal kemampuan bermusik.

Banyak orang tua mulai memperkenalkan musik pada anak-anaknya dengan mengikutkan les sejak kecil. Jika kebetulan anakya memang memiliki minat dan bakat, les musik menjadi jalan yang bagus buat mengasah kemampuan itu. Tapi ada juga orang tua yang ingin agar anaknya tumbuh seimbang antara otak kanan dan kiri. Keseimbangan tersebut memang lebih bagus dalam pertumbuhan pribadi anak dibandingkan hanya fokus pada salah satu otak.

Komposer dan CEO Purwa Caraka Music Studio Purwa Tjaraka menuturkan, dalam menentukan keberhasilan anak dalam menggeluti musik bukan saja fakor talenta yang dimiliki juga edukasi. “Bila memiliki talenta terus diedukasi, hasilnya dahsyat,” ujarnya kepada Investor belum lama ini. Menurutnya, sekarang para pemusik bisa hidup secara baik karena secara finansial, pendapatan yang diperoleh dari mengajar musik atau bermain musik terbilang lumayan. Karenanya, jika seorang anak ingin diajarkan bermusik sebaiknya di bawah usia 8 tahun, karena pada rentang usia tersebut merupakan masa pembentukan karakter seorang anak. Bagi Purwa, tidak ada alasan belajar musik dapat menganggu pendidikan formal. Tidak sedikit juga orang yang bisa sukses dalam karier pendidikan formal, juga sukses atau piawai bermusik sehingga berprofesi ganda.

Dalam alokasi keuangan keluarga, biaya pendidikan biasanya hanya difokuskan untuk kebutuhan pendidikan reguler (formal). Padahal dengan adanya aktivitas untuk pengembangan bakat bermusik tersebut tentu menambah biaya pengeluaran untuk pendidikan anak. Bagaimana menyiapkan dana pendidikan untuk itu?

Perencana Keuangan dari One Shildt Financial Consulting Pandji Harsanto mengatakan, anggaran pendidikan untuk ekstra kurikuler yang masih dalam lingkup sekolah biasanya sudah dimasukkan dalam perhitungan biaya pendidikan formal, namun untuk ekstra kurikuler di luar sekolah harus dianggarkan tersendiri. “Untuk kebutuhan current (biaya ekstra kurikuler saat ini) seperti belajar musik, memang tidak ada aturan baku berapa persen yang bisa dikeluarkan. Selama biaya-biaya lain seperti kebutuhan rutin, cicilan utang, investasi, sudah aman berapapun anggaran yang diperlukan untuk belajar musik tidak menjadi persoalan, tergantung kemampuan orang tua,” tuturnya.

Namun, jika keinginan itu sudah dipersiapkan untuk jangka panjang atau ke depan sementara anak masih kecil bisa ditempatkan dalam beberapa instrumen investasi. Pandji menyebut bila jangka pendek sebaiknya tabungan, menengah atau 3-5 tahun bisa ke reksa dana, dan di atas 5 tahun bisa pilih reksa dana saham. Selain skema tersebut kini ada juga produk asuransi yang menawarkan meng-cover biaya pendidikan plus biaya ekstra kurikulernya seperti belajar musik. Namun, Pandji menyarankan sebaiknya memilih produk asuransi term life karena bisa optimal dana perlindungan untuk risiko orang tuanya

Jika kondisi keuangan memang terbatas, alternatifnya dengan mencari tempat belajar yang berbiaya rendah. Pandji pun menyarankan sebaiknya ada alokasi lain yang disiapkan dalam kurun tertentu untuk mengikutkan anak pada kontes atau kompetisi. “Jika memungkinkan memang mencari beasiswa dari aktivitas tersebut atau untuk aktivitas tersebut,” ujarnya.
Purwa Tjaraka juga menilai, kompetisi penting diikuti para peserta untuk menunjukkan kemampuan dan membuka peluang untuk mengorbit. Dengan mengikuti kompetisi, apalagi mampu menjuarai kesempatan untuk memasuki level aktivitas yang lebih tinggi bakal terbuka seperti digaet grup musik, mengisi acara, bintang iklan hingga rekaman.
TIPS Ekskul musik
  • Sebaiknya mengarahkan anak belajar musik saat di bawah usia 8 tahun karena lebih mudah dibentuk.
  • Persiapkan dana untuk kebutuhan belajar tersebut di luar dana pendidikan reguler.
  • Jika waktu masih cukup lama, dana yang disiapkan bisa disimpan di instrumen investasi reksa dana, tapi bila dalam waktu dekat bisa gunakan tabungan.
  • Ada pilihan lain dengan menggunakan asuransi yang meng-cover kebutuhan tersebut, sehingga bila orang tua meninggal dana belajar musik tetap ada.
  • Apabila kebutuhan keuangan lainnya sudah terpenuhi tidak ada aturan baku berapa besar dana yang bisa dikeluarkan untuk belajar musik tersebut.
  • Siapkan pula dana untuk mengikuti kontes atau lomba, sebab ajang ini bisa jadi peluang meningkatkan kemampuan dan karier bermusik


Unit Link Asuransi

Berikut ini ada sebuah tulisan yang dibuat oleh rekan Penulis yang kebetulan memiliki ketertarikan di bidang finansial. Saat ini beliau sedang menyelesaikan pendidikannya untuk mendapatkan gelar S2, Master of Business Administration.  Artikel ini membahas mengenai unit link, sedikit pendahuluan, unit link adalah salah satu instrument pengaman (asuransi) yang digabung dengan investasi. Apakah cukup menguntungkan menggunakan unit link ?
Masyarakat Indonesia saat ini banyak yang sudah peduli akan fungsi asuransi untuk memindahkan resiko. Masalah yang terjadi belakangan ini adalah masyarakat menjadi bingung akan adanya argumentasi akan asuransi hybrid yang disebut unitlink (UL). Baik para perencana keuangan terkenal di berbagai lembaga konsultasi keuangan ataupun tulisan lepas di media melakukan kampanya anti asuransi unitlink.
Sebagai anggota masyarakat awam yang berada di tengah perang argumentasi ini, saya berusaha mencari tahu apa yang membuat para perencana keuangan begitu alergi akan produk UL ini, dan kenapa agen asuransi begitu getol menjual produknya. Agar adil, mari kita melihatnya dari dua sisi yang berbeda, dari sisi investasi dan proteksi.

Sisi Investasi dari Unit Link

Dari sisi investasi, jelaslah tidak ada yang dapat mengalahkan argumen dari para perencana keuangan, bahwa investasi dan proteksi SEBAIKNYA dipisah, karena akan menghasilkan return dan manfaat yang maksimal. Berinventasi di reksadana dengan sebalumnya melakukan perhitungan future value untuk mementukan jumlah dana yang ingin dicapai dan untuk berapa lama dana tersebut akan dihimpun. Para perencana keuangan menjagokan asuransi term life atau asuransi berjangka untuk mendukung program berinvestasi ini. Asuransi berjangka adalah asuransi yang berlaku pada jangka waktu tertentu bisa 5, 10, 15 atau 20 tahun, dibayar sekaligus dalam setahun. Asuransi berjangka mempunyai premi yang lebih rendah dari UL dan hangus per tahunnya apabila tidak ada klaim, diasumsikan sisa alokasi dana dari premi tersebut dapat digunakan untuk menyimpan dana di reksadana menjadi lebih besar. Perlu diingat bahwa bila asuransi berjangka diberi tambahan atau rider, preminya pun akan bertambah.

Sisi Proteksi dari Unit Link

Mencoba melihat dari sisi yang berbeda yaitu proteksi, UL mempunyai multi fungsi, untuk mengcover sakit, sakit kritis, kecelakaan, cacat, dan kematian yang mana uang pertanggungannya akan keluar bila salah satu keadaan di atas terjadi. Premi yang disetor di UL, selama lima tahun pertama dengan jumlah yang berkurang diambil untuk biaya-biaya akuisisi tergantung dari tiap perusahaan asuransi dan COI dsb. Sisanya dimasukan ke dalam keranjang investasi, yang mana uang tersebut dipakai untuk menutupi biaya bulanan untuk menghindari asuransi dari lapse dikarenakan pembayaran UL biasanya berjangka waktu 10 tahun atau lebih untuk mengcover biaya seumur polis. Janganlah mengharapkan hasil investasi dari UL karena hasilnya tidak akan maksimal, karena tujuan dari investasi di UL sendiri adalah untuk menutup biaya adminstrasi dari polis tersebut. Baiknya UL adalah bisa dibayar perbulan dan bisa membagi keuangan untuk berinvestasi di reksadana. Jika market crash, kita harus menyuntik dana agar dana yang ada di keranjang investasi tetap menghasilkan return untuk menutupi biaya UL.

Perbandingan Unitlink dengan Asuransi Konvensional

Mari kita contohkan dengan ilustrasi dibawah ini:
Pria 30 tahun, tidak merokok, karyawan middle management yang mampu menyisihkan dana sebesar Rp 525.000,00 perbulannya untuk perencanaan keuangan masa depannya. Dengan dana yang ada ini ia ingin memiliki proteksi jiwa sebesar Rp 1.5M. Produk mana yang harus dipilihnya?
PROTEKSI TERM LIFE + REKSADANA
TERM LIFE per tahunnya 4,5 jt dalam jangka 20 tahun dan (misal) premi boleh bayar dengan menyicil pertahun menjadi Rp 375.000/ bulan. Sisanya sebesar Rp 150.000/ bulan bisa diinvestasikan di reksadana saham dengan return 25% per tahun.
Per tahunnya denga asumsi sehat waalfiat, premi 4.5 jt hangus dan memang terbentuk dana sebesar Rp 311.000.000 pada reksadana. Di usia 50 tahun, pria tersebut ingin melanjutkan term life nya hingga usia 70 tahun. Dengan asumsi sehat waalfiat, jumlah premi per tahunnya yang harus dibayarkan pada asuransi term life menjadi lima kali lipat pada usia 51-70 tahun sebesar 22,5 jt. Pria tersebut mangambil dana investasinya di tahun ke 20, maka dapat dilihat pada usia 70 tahun dana investasinya menjadi Rp 4.638M. Apa yang akan terjadi apabila pria berusia 30 tahun tidak merokok tersebut mempunyai umur panjang hingga 99 tahun, berapa harga premi yang harus dibayar untuk mempunyai term life?
PROTEKSI UNITLINK
Kasus yang sama berlaku sebagai perbandingan yang fair, pria 30 tahun tidak merokok, menginginkan proteksi jiwa sebesar Rp 1.5 M dengan dana Rp 525.000,00 per bulannya. Melalui asuransi A, didapatkan:
Pertanggungjawaban jiwa hingga 70 tahun sebesar 1.5M
Pertanggungjawaban jiwa 70-99 sebesar 500 juta
Masa pembayaran premi 20 tahun denga premi tetap Rp 525.000,00 per bulan.
Di tahun ke 20 terbentuk nilai tunai sebesar Rp 299.000.000,00.
Pria tersebut tidak perlu membayar premi lagi apabila ingin melanjutkan proteksi jiwanya hingga 70 tahun, dia tidak perlu lagi membayar COI karena diambil dari nilai tunai yang ada. Asumsi bila dia tidak pernah mengambil dananya, maka di usia 70 tahun akan terbentuk nilai tunai Rp 5.685M.
Apabila pria tersebut panjang umur dan tetap mempertahankan polisnya hingga usia 99 tahun, maka dia tidak perlu lagi menyetor premi lagi, walaupun uang pertanggungan proteksinya menjadi 500 juta, tetapi nilai tunainya akan terus berkembang sebesar Rp 66 M bila pria tersebut meninggal di usia 85 tahun.
Anggap saja nilai tunai yang terbentuk dari UL adalah bonus, jangan terjebak dengan berita di media karena terkadang menyesatkan. Tidak semua UL jelek, carilah dari perusahaan asuransi ternama dan lebih baik kita cari tahu dan mengecek kebenarannya dan disesuaikan dengan kebutuhan kita.
Bagaimana para pembaca? Apakah sudah mendapat gambaran mengenai unitlink? Sebelum Anda membeli produk investasi atau asuransi atau produk keuangan apapun, sebaiknya kenali tujuan Anda, manfaat yang didapat dari produk dan kuasai produknya. Seperti tulisan di atas ternyata UnitLink memiliki manfaat lebih di bagian proteksi, walaupun produk ini bukan juara pertama untuk investasi.
Re

Pembentukan portfolio yg maksimal

ABSTRACT
When Investor making an investment, whatever the type, the main element of investor’s consideration is the rate of return and the rate of risk. Every investor willing to get an optimal return, but on the reality, investor faced by uncertainty called risk. By making diversification, investor my reduce the rate of  risk and optimizes the rate of expected return. It can be done by forming composition of portfolio. To get an optimal portfolio, investor can choose his proportion asset in portfolio. The objectiveness of this review article is to see the effectiveness some analysis method like Markowitz, SIM and   CAPM, that used by investor to determined the stock performance. From some literature, we can analyze  that Markowitz, SIM, and CAPM models are very useful to decide the proportion of fund that will be invested. Some new technology application support and make the formula easier to be applied.
PENDAHULUAN
Investasi merupakan sebuah cara alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan nilai aset di masa depan, dengan melakukan investasi, menurunnya purchasing power akibat inflasi dapat di ofsett oleh return yang di dapatkan dari investasi.  investasi sendiri dapat digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu :
1.    Investasi pada real asset
2.    Investasi pada financial asset
Investasi pada real asset dapat dilakukan dengan membeli peralatan, pendirian pabrik, perbaikan mesin produksi, dll. Sedangkan investasi pada financial asset  (instrumen keuangan) dapat dilakukan pada pasar uang (berupa sertifikat deposito, commercial papper, dll) maupun pasar modal (berupa saham, obligasi, dll).
Investor pada umumnya merupakan pihak yang sangat tidak menyukai resiko tetapi menginginkan return yang maksimal, untuk itulah dewasa ini, investasi di sektor financial menjadi primadona di kalangan investor, karena menjanjikan tingkat return yang lebih tinggi dibandingkan dengan investasi di sektor real asset maupun di pasar uang. Pada tahun 1992-1998 nilai emisi dan nilai kapitalisasi di pasar modal tumbuh rata-rata 44,9%, dan 61,31% per tahun. Padahal pada periode yang sama dana masyarakat, aktiva dan kredit perbankan hanya tumbuh masing-masing sebesar 24,76%, 23,12%, dan 22,37% (Achsien, 2003 dalam Yuliastuti 2007).
Meskipun investasi di pasar modal menjanjikan tingkat return yang lebih tinggi, namun kita perlu ingat bahwa semakin besar return, maka tingkat resiko-nya akan semakin besar pula. Untuk itulah sebagai seorang investor yang rasional, hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah bagaimana investasi dapat menghasilkan return optimal pada tingkat resiko yang minimal.
Dalam memaksimalkan return dan meminimalkan resiko, investor dapat melakukan diversifikasi, diversifikasi dapat diwujudkan dengan cara mengkombinasikan berbagai pilihan saham dalam investasinya (membentuk portofolio saham optimal). Melalui portofolio ini investor dapat memaksimalkan keuntungan yang diharapkan dari investasi dengan tingkat risiko tertentu atau berusaha meminimalkan risiko untuk sasaran tingkat keuntungan tertentu.
Menurut Tandelilin (2000:9) ada dua strategi portofolio yang bisa dipilih, yaitu strategi portofolio aktif dan strategi portofolio pasif. Strategi portofolio aktif meliputi kegiatan penggunaan informasi yang tersedia dan teknik-teknik peramalan secara aktif untuk mencari kombinasi portofolio yang lebih baik. Sedangkan strategi portofolio pasif meliputi aktivitas investasi pada portofolio yang seiring dengan kinerja indeks pasar.
Semua investor tentunya mempunyai tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari penyertaan modalnya ke perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pihak investor harus melakukan suatu analisis terhadap saham-saham yang akan dibeli. Hasil analisis dapat digunakan untuk pembentukan portofolio investasi. Analisis terhadap saham harus dilakukan dengan teliti, terutama mengenai tingkat return dan risk. Dengan adanya analisis, diharapkan dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang tepat akan dapat memberikan hasil yang optimal.
PERMASALAHAN
Kegagalan para investor dalam membentuk portofolio yang optimal pada umumnya disebabkan karena investor mendapatkan informasi yang terlalu banyak (overload informasi), sehingga investor tidak bisa mengambil informasi yang paling relevan dan paling dibutuhkan dalam membuat portofolio set dan menganalisis prospek jangka panjangnya.
Konsep diversivikasi sebenarnya merupakan sebuah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut, diversifikasi memberikan sebuah informasi yang paling relevan yang bisa digunakan untuk mengukur ketidakpastian resiko investasi dengan menggunakan varian dari return. Hasil pengukuran varian dari tersebut nantinya dapat digunakan sebagai dasar untuk menganalisa saham-saham yang dapat dipilih untuk membentuk rangkaian portofolio yang bisa memberikan return yang optimal.
Permasalahan yang timbul sekarang adalah bagaimana model- model optimasi portofolio maksimal seperti, Markowitz, Single Index Model, dan CAPM dapat menghasilkan suatu formula yang benar-benar mungkin dilakukan investor dalam memperhitungkan pembentukan portofolio yang maksimal?
Beberapa penelitian telah banyak dilakukan untuk melihat apakah model Markowitz dapat digunakan dengan mudah untuk membentuk portofolio yang eficient? apakah Single Index Model dapat memberikan jaminan untuk memperkirakan beta di masa yang akan datang dengan baik? dan apakah CAPM cukup valid dalam menentukan return di masa yang akan datang?
PEMBAHASAN
Investasi pada dasarnya merupakan sebuah usaha menempatkan dana saat ini pada sektor tertentu untuk menghasilkan manfaat finansial di masa yang akan datang.  Pada saat melakukan investasi, investor harus memperhatikan tingkat return yang akan didapatkan, return terdiri dari dua komponen, meliputi :
1.    Capital gain (loss), merupakan keuntungan (kerugian) yang didapatkan oleh investor atas selisih harga beli dengan harga jual di pasar sekunder.
2.    Yield, merupakan pendapatan atau aliran kas yang diterima investor secara periodik, baik berupa bunga maupun deviden.
Menghitung rata-rata (mean) hasil pengembalian (expected return)  dapat dilakukan dengan rumus :
dimana
E = hasil pengembalian rata-rata,
Pt = probabilitas dari etiap tingkat hasil pengembalian
Rt = tingkat hasil pengembalian
Menghitung rata-rata (mean) hasil pengembalian (expected return) portofoli dilakukan dengan rumus :
dimana
E = hasil pengembalian rata-rata,
We = prosentase jumlah yang diinvestasikan
Rs = tingkat hasil pengembalian dari saham ‘S’
Rc = tingkat hasil pengembalian dari saham ‘c’
Meskipun tingkat return merupakan komponen yang sangat menentukan dalam pemilihan investasi, namun kita juga harus ingat bahwa semakin tinggi tingkat return yang dijanjikan, maka tingkat resiko yang dihadapi pun akan semakin tinggi, oleh karena itulah disamping memperhitungkan return, kita juga harus memperhatikan hubungan antara return dengan resiko dalam menentukan pilihan investasi.
Seperti yang kita ketahui, resiko merupakan besarnya penyimpangan antara tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) dengan tingkat pengembalian yang dicapai secara nyata (actual return), bila penyimpangan semakin besar, maka semakin besar pula tingkat resikonya. Resiko sendiri terdiri dari resiko sistematis dan resiko tidak sistematis, resiko sistematis merupakan resiko yang dialami oleh semua investasi tanpa terkecuali, resiko ini dinamakan juga resiko pasar, sedangkan resiko tidak sistematis merupakan resiko yang hanya dialami oleh jenis investasi tertentu yang bisa disebabkan oleh faktor manajemen, ciri khusus industri, dsb (Francis, 1988 dalam Yuliastuti 2007). Risiko tidak dapat dihindari, tetapi dapat dikelola agar risiko tersebut dapat diminimalisasi (risiko terkontrol).
Resiko dapat dihitung dengan menggunakan rumus sbb:
Rumus    deviasi standar (standar penyimpangan) :
Menghitung deviasi standar (standar penyimpangan) dengan rumus :
a dan b dapat dicari melalui :
MODEL MARKOWITZ
Melalui konsep diversifikasi (dengan pembentukan portofolio saham yang optimal), investor dapat memaksimalkan keuntungan yang diharapkan dari investasi dengan tingkat risiko tertentu atau berusaha meminimalkan risiko untuk sasaran tingkat keuntungan tertentu. Di tahun 1952, Markowitz mengembangkan suatu bentuk diversifikasi yang efisien. Ukuran yang dipakai dalam portofolio Markowitz adalah koefisien korelasi. Koefisien korelasi positip menunjukkan bahwa kedua asset bergerak searah, sedang koefisien korelasi negatip menunjukkan bahwa kedua asset bergerak berlawanan.
Menurut Markowitz, portofolio yang maksimal adalah dengan mengkombinasikan beberapa aset yang koefisien korelasi-nya kurang dari positif, disamping itu, apabila ada dua surat berharga yang return-nya sama tetapi resikonya berbeda, maka dipilih yang risiko rendah. (Agus, 2005). Kumpulan portofolio efisien Markowitz terletak pada garis batas (efficient frontier) serangkaian portofolio yang memiliki pengembalian maksimal untuk tingkat pengembalian tertentu. Inti dari efficient frontier Markowitz adalah bagaimana mengalokasikan dana  ke masing-masing saham dalam portofolio untuk mencari titik maksimal portofolio.
Persamaan untuk eficient set portofolio adalah sebagai berikut :
Min
= representasi keseluruhan varian sebuah portofolio
n    = jumlah saham dalam portofolio
Dengan Konstrain berikut :
(1) E      =
(2) 1.0        =
dimana,
xr        = proporsi uang yang dialokasikan untuk saham i
E (r*p)        = adalah tingkat return yang diharapkan
E (rj)        = adalah tingkat return untuk setiap saham
Dengan menggunakan persamaan (1), dapat dihitung sebuah portofolio dengan varian yang paling kecil, untuk setiap tingkat return yang dikehendaki investor. Model representasi keseluruhan tersebut menghasilkan banyak solusi yang tidak mungkin, karena jumlah alokasi terkadang  lebih dari = 1. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kita dapat mengimplementasikan Algoritma Genetika dalam model Efficient frontier Markowitz, jika dalam model Markowitz tradisional alokasi dilakukan dengan menggunakan Quadratic programming (aplikasi MS Excell), dimana resiko ditahan konstan kemudian algoritma bergerak untuk memperoleh return yang maksimal, atau sebaliknya return ditahan konstant kemudian algoritma meminimalkan resiko, maka dalam  model Algoritma Genetika, pergerakan dapat dilakukan dengan berssamaan dalam memaksimalkan return dan meminimalkan resiko, dengan demikian, total jumlah alokasi akan selalu = 1, sehingga tidak akan terjadi solusi yang tidak mungkin dalam proses pengalokasian dana (Rostianingsih, Taufik N, 2005). Penggunaan Algoritma Genetika untuk pemilihan portofolio saham dalam model Markowitz dapat mengatasi kelemahan pengalokasian dana dalam pembentukan efficient set portofolio
Model Markowitz telah terbukti membawa pemilihan portofolio yang efisien, yang terletak pada garis efisien (efficient frontier), yaitu portofolio yang merupakan porfolio pasar, tetapi dengan asumsi: (1) para investor adalah penghindar risiko yang memaksimalkan utility yang diharapkan; (2) investor memilih portofolio dengan dasar pertimbangan rata-rata varian dan return yang diharapkan; (3) semua investor melakukan periode pemegangan tunggal (single holding periode); disamping itu ada asumsi impilisit bahwa modal yang digunakan investor adalah modal sendiri, bukan dari pinjaman. (Agus, 2005). Dengan menggunakan model Markowitz, investor bisa memanfaatkan semua informasi yang tersedia sebagai dasar pembentukan portofolio yang maksimal.
MODEL SINGLE INDEX
Single Index Model memberikan sebuah alternatif analisis varian yang lebih mudah jika dibandingkan dengan analisis model markowitz, lewat SIM, kita dapat menentukan efficient set portofolio dengan kalkulasi yang lebih mudah, karena SIM menyederhanakan jumlah dan jenis input (data), serta prosedur analisis untuk menentukan fortfolio yang optimal. SIM mengasumsikan bahwa korelasi return masing-masing sekuritas terjadi karena adanya respon sekuritas tersebut  terhadap perubahan indeks tertentu (seperti IHSG).
Penggunaan model indeks tunggal memerlukan penaksiran beta dari saham-saham yang akan dimasukkan ke dalam porfolio, dalam menentukan beta, kita dapat menggunakan sebuah judgement, di samping itu kita bisa menggunakan beta historis untuk menghitung beta waktu lalu yang dipergunakan sebagai taksiran beta di masa yang akan datang. Beta historis memberikan informasi yang berguna tentang beta di masa yang akan datang karena itu seringkali para analis menggunakan beta historis sebelum mereka menggunakan judgement untuk memperkirakan beta.
Rumus Estimating Beta
Ri  = αi +  βi Ŕm  + ei                    (1.19)
Persamaan ini merupakan persamaan regresi sederhana. Beta menunjukkan kemiringan (slope) garis regresi tersebut. Alpha menunjukkan intercept dengan sumbu Rij. Makin besar beta, makin curam kemiringan garis tersebut dan sebaliknya.
Beberapa variabel akuntansi yang digunakan untuk memperkirakan beta, antara lain:
a.    Divident Payout (yaitu perbandingan antara dividen perlembar saham dengan laba perlembar saham)
b.    Pertumbuhan aktiva (yaitu perubahan aktiva pertahun)
c.    Leverage (yaitu rasio antara hutang dengan total aktiva)
d.    Likuiditas (yaitu aktiva lancar dibagi dengan hutang lancar)
e.    Asset size (yaitu nilai kekayaan total)
f.    Variabilitas keuntungan (yaitu standar deviasi dari earning price ratio)
Beta akunting (yaitu yang timbul dari regresi time series laba perusahaan terhadap rata-rata keuntungan semua (sampel) perusahaan.
Beta sekuritas individual cenderung mempunyai koefisien determinasi (yaitu bentuk kwadrat dari koefisien korelasi) yang lebih rendah dari beta portofolio. Koefisien determinasi menunjukkan proporsi perubahan nilai Ri yang bisa dijelaskan oleh Rm.
Dengan menghitung koefisien beta yang mencerminkan tingkat risiko masing-masing saham yang diamati, dan tingkat return saham, maka kita dapat menentukan excess return to beta (ERB) yang mencerminkan tingkat keuntungan yag sangat mungkin dapat dicapai. Untuk mendapatkan kandidat portofolio kuat, kita tinggal membandingkan ERB dengan Cut off Rate untuk menhasilkan saham-saham yang memiliki tingkat return yang tinggi dan risiko yang minimal yang dapat mengeliminir risiko tidak sistematis. jika suatu jenis saham angka Excess Return to Beta (ERB)-nya lebih besar dari angka batas C (cut of rate) maka saham tersebut masuk sebagai kandidat portofolio.
Penentuan proporsi dana yang diinvestasikan dapat dilakukan dengan cara membagi persentase tingkat return dengan total proporsi investasi.
Rumus dasar SIM :
Menghitung the expexted returns
+
Menghitung variance :
Menghitung covariance :
Dimana,
= Return saham i (TR)
= Return pada pasar (TR)
= Return saham yang tidak tergantung pada pasaar
= eror
= varian portofolio
= Beta
Tujuan Akhir dari Single Index Model sama dengan analisis Markowitz, yaitu mencari garis portofolio yang efisien. Dengan demikian investor dapat menentukan jenis saham dan proporsi dana yang diperlukan dalam membentuk sebuah  portofolio yang maksimal dengan analisis yang lebih mudah.
MODEL CAPM
Di tahun 1965, Sharpe menyempurnakan model portofolio Markowitz ditambah dengan asumsi: (1) adanya tingkat bebas risiko; (3) investasi bisa dipecah-pecah dalam bentuk yang sekecil mungkin; (3) adanya kebebasan short sales (4) semua aktiva bisa diperjual belikan. Dengan demikian maka portofolio yang efisien suatu garis pasar modal (capital market line) yang intersepnya adalah tingkat bebas risiko (rf). Untuk mengambarkan trade-off antara risiko dan return untuk seluruh surat berharga, baik yang efisien maupun yang tidak, maka ukuran yang dipakai bukanlah varian, tetapi adalah risiko sistematisnya (β). Hubungan antara risiko sistematis dengan return tersebut apabila digambarkan dalam suatu model akan membentuk Capital Asset Pricing Model (CAPM) (Agus, 2005).
Capital Asset Pricing Model merupakan suatu model keseimbangan yang bisa menggambarkan atau memprediksi realitas di pasar yang bersifat kompleks, sehinga dapat membantu kita melihat hubungan return dan resiko di dunia nyata yang terkadang sangat kompleks. Selain itu CAPM juga dapat dipergunakan untuk menentukan harga suatu aktiva modal (capital assets), dengan mengingat segala karakteristik aktiva tersebut. Yang dimaksud karakteristik aktiva tersebut adalah risikonya. Dengan model ini kita mencoba menentukan berapa harga yang seharusnya bersedia dibayar oleh para investor terhadap suatu aktiva modal.
Model CAPM :
E(Ri)=Rf+[E(Rm)-Rf]βi
Dimana,
E(Ri)        = return yang diharapkan dari surat berharga i
(β)        = resiko sistematis
[E(Rm)-Rf]    = market risk premium
Dalam CAPM, β adalah ukuran dari hubungan paralel dari sebuah saham biasa dengan seluruh tren dalam pasar saham. Bila β > 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih tinggi daripada pasar. β < 1.00 artinya saham cenderung naik dan turun lebih rendah daripada indek pasar secara umum (general market index). Perubahan persamaan risiko dan perolehan (Equation Risk and Return) dengan memasukan faktor β dinyatakan sebagai:
Rs = Rf + βs (Rm – Rf)
Rs = Expected Return on a given risky security
Rf = Risk-free rate
Rm = Expected return on the stock market as a whole
βs = Stock’s beta, yang dihitung berdasarkan waktu tertentu
CAPM bertahan bahwa harga saham tidak akan dipengaruhi oleh unsystematic risk, dan saham yang menawarkan risiko yang relatif lebih tinggi (higher βs) akan dihargai relatif lebih daripada saham yang menawarkan risiko lebih rendah (lower βs). Riset empiris mendukung argumen mengenai βs sebagai prediktor yang baik untuk memprediksi nilai saham di masa yang akan datang (future stock prices) (Yohan Naftali, 2007).
Berbagai pengujian CAPM dengan data empiris telah banyak dilakukan. Pada tahun 2005, Saputra dan Leng menggunakan sampel saham-saham di BEJ pada tahun 1999, untuk melihat pegaruh risiko sistematis dan likuiditas terhadap return saham-saham. Likuiditas diukur dengan bid-ask spread. Hasilnya menunjukkan bahwa baik likuiditas maupun risiko sistematis secara signifikan mempengaruhi return, tetapi diantara kedua faktor tersebut yang paling banyak berpengaruh adalah risiko sistematis (Agus, 2005)
KESIMPULAN
Alternatif investasi modal sangat dipengaruhi oleh faktor kondisi pasar modal yang mencakup berbagai informasi yang berhubungan dengan harga saham yang terjual belikan. Rationalitas investor dapat diukur sejauhmana mereka dapat menentukan pilihannya untuk mendapatkan hasil yang maksimum pada tingkat risiko tertentu. Para investor secara rasional akan mencari portofolio yang memberikan Return maksimal pada risiko minimal.
Analisis portofolio dapat digunakan untuk menentukan return optimal pada risiko yang minimal, salah satu metode analisis yang banyak digunakan adalah SIM, model ini merupakan bentuk penyederhanaan dari model portofolio maksimal Markowitz, analisis dilakukan dengan menghitung koefisien beta yang mencerminkan tingkat risiko dan tingkat return masing-masing saham yang diamati, dengan diketahuinya tingkat return saham dan koefisien beta, kita dapat menentukan exess returns to beta (ERB) yang. mencerminkan tingkat keuntungan yang sangat mungkin dapat dicapai. Langkah selanjutnya untuk mendapatkan kandidat portofolio kuat, diperoleh dengan membandingkan antara ERB dengan Cut off Rate untuk menghasilkan saham-saham yang memiliki tingkat return yang tinggi dan risiko yang minimal untuk mengeliminir risiko tidak sistematis. Dari analisis portfolio tersebut, kita dapat menentukan proporsi dana vang diinvestasikan, dengan cara membagi persentase tingkat return dengan total proporsi investasi.
Disamping beberapa model analisis seperti Eficient Frontier Markowitz dan SIM, terdapat beberapa model keseimbangan seperti CAPM dan APT Model keseimbangan CAPM membantu menggambarkan hubungan resiko dan return secara lebih sederhana, dan hanya menggunakan satu variable (disebut juga variable beta) untuk menggambarkan resiko, sedangkan APT lebih kompleks disbanding CAPM karena menggunakan sekian banyak variable pengukur resiko (eduardus tandelilin, 2001)
Model-model analisis dan model keseimbangan  telah banyak digunakan untuk menentukan portfolio set yang optimal, dalam beberapa decade terakhir, model-model tersebut telah banyak dikembangkan untuk lebih memberi kemudahan bagi investor dalam membuat analisis. Beberapa Software aplikasi juga turut mendukung kemudahan analisis, sehingga beberapa kendala yang sering ditemui (kompleksitas, waktu perhitungan) oleh investor dapat di atasi.
REFERENSI
Atarmono, 2001, Analisis Portofolio Saham Untuk Menentukan Return Optimal dan Resiko Minimal, Jurnal JIPTUNMREPP, September
Didik Rudiyanto, 2003, Analisis dan Seleksi Saham Dalam Rangka Pembentukan dan Pemilihan Portofolio Saham Yang Optimal, Jurnal JIPTUMN, September
Wawan Taufik dan Silvia Rostianingsih, 2005, Penggunaan Algoritma Genetika Untuk Pemilihan Portofolio Saham Dalam Model Markowitz, Jurnal Informatika Volume 6, No 2 , November : 105-109
Ahsan At All, “Analytical approximation for a multi-period portfolio problem with vector autoregressive returns”, Maret (2004)
Statman, Meir and Jonathan Scheid. “Global diversification,” Journal of Investment Management, Vol. 3, No. 1 (2005): 1-11
Statmant Meir and Scheid Jonathan, Correlation, “Return Gaps And The Benefit of Diversification”, California 95128, November (2007) : 1-12
Eduardus Tandelilin, 2001, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Yogyakarta, BPFE
Sari Yuliasih, 2007, Analisis Return Invevstasi Islam Terhadap Investasi Konvensional Di Indonesia, Surakarta