Kamis, 06 Juli 2023
Unsur Hara Tanaman
Senin, 03 Juli 2023
11 cara beli tanah belum sertifikat
Selasa, 07 Maret 2023
Wawancara Kerja
Selasa, 11 Oktober 2022
Analisa Laporan Keuangan
Senin, 26 September 2022
Baja Ringan
Baja Ringan
Baja ringan adalah material yang dibentuk dalam kondisi dingin (cold-formed steel) dengan ketebalan berkisar antara 0,4 mm hingga 3,0 mm yang bersifat ringan dan tipis namun kekuatannya tidak kalah dari baja konvesional.
Ada baiknya Anda mengetahui ukuran baja ringan serta jenis dan bentuknya, sebelum Anda memasang atap baja ringan.
Anda juga tidak perlu khawatir mencari jasa pasang atap baja ringan kesana kemari. Karena kami juga melayani pemasangan atap baja ringan di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya
Ukuran Baja Ringan

Ukuran baja ringan memiliki ukuran ketebalan 0.75 mm atau 1.00 mm.
Walau ketebalan baja ringan hanya 0.75 mm/1.00 mm, namun baja ringan memiliki banyak kelebihan, salah satunya adalah kuat dan tahan lama.
Sementara ukuran baja ringan untuk hollow berbeda lagi. Karena baja ringan hollow terbagi menjadi baja ringan holllow galvanis dan baja ringan hollow galvalum.
Untuk ukuran reng baja ringan memiliki ketebalan 0.40 mm sampai 0.60 mm dan tinggi profil baja ringan memiliki ukuran mulai dari 70 mm sampai 100 mm.
Bentuk Baja Ringan
Umumnya, bentuk baja ringan yang sering digunakan ialah bentuk “Canal” atau “C” dan “Omega”.
Kedua bentuk itu dapat dipergunakan sebagai penyusun konstruksi baja ringan.
Baja ringan berbentuk canal atau omega ini sudah mudah ditemukan di beberapa toko penjual baja ringan atau di jasa pemasangan baja ringan.
Klik Disini Untuk Tahu Cara Mudah Mengetahui Kemiringan Atap Rumah!
Yang paling banyak digunakan dan paling sering ditemukan ialah baja ringan berbentuk “Canal” atau “C”.
Bentuk ini dianggap sebagai profil baja ringan. Profil Calal C merupakan profil tertua pada material batang baja ringan.
Penampang profil ini juga sudah digunakan pada baja konvensional jauh sebelum istilah baja ringan hadir yang hingga saat ini masih dipakai.
Pada profil C kelebihan utamanya adalah pada saat digabungkan dua profil C yang saling berhadapan disatukan menjadi “box” atau “kotak”.
Jenis Baja Ringan
Sementara terkait dimensi ukuran, tebal baja ringan yang biasa digunakan adalah 0,75 mm hingga 1,00 mm pada batang utama kuda-kuda konstruksi.
Sedangkan pada reng, ketebalan yang digunakan mulai 0,40 hingga 0,60 mm.
Sementara untuk ukuran tinggi profil juga bervariasi mulai dari 70 mm hingga 100 mm .
Dan pada batten/reng tinggi mulai 31mm hingga 60mm. Variasi ukuran ini ditujukan menyesuaikan dengan beban/kekuatan yang disokongkannya.
TRUS / Kaso Metal Baja Ringan

Kaso berbahan plat baja gaya tarik tinggi (G550) / baja ringan yang dilapisi dengan seng dan alumunium atau sering disebut (Zincalume/Galvalume) namun ada juga yang berbahan Galvanis.
Ketahui Tips Mudah Mengetahui Biaya Pasang Atap Baja Ringan Disini
Tinggi profil C ini 75 cm panjang dengan 6 m dengan ketebalan bervariasi. Mulai dari 0,60 mm, 0,65 mm, 0,70 mm,0,75 mm sampai dengan 1 mm. Digunakan sebagai rangka atap baja ringan atau kuda-kuda utama baja ringan.
Reng Baja ringan

Berbentuk trapesium, digunakan sebagai peletakan atap. Umumnya ketebalan reng 0,45 mm dengan tinggi mulai dari 28 mm sampai dengan 40 mm, semakin tnggi profil reng maka semakin kuat.
Jika Anda menggunakan genteng beton atau keramik disarankan menggunakan reng minimum tinggi 30 mm.
Baja Ringan Taso

Baja ringan dengan merk taso memiliki ketebalan 0,75 mm dan 1 mm dengan tinggi 7,5 cm dan lebar kaki 3,5 cm dan panjang 6 meter perbatang.
Aksesories meliputi :
- Bracket L, profil tebal 1,5 mm
- Dynabolt, diameter 12 mm, panjang 100 mm
- Baut, type self drilling screw. (Ukuran : 12-14×20 bright zinc (untuk truss) 10-16x bright zinc (untuk reng )
Rabu, 27 Juli 2022
cara meredam inflasi
Laju inflasi yang tidak terkendali dapat berdampak buruk pada sebuah negara lantaran memengaruhi kenaikan harga barang dan jasa secara umum.
Terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mengendalikan inflasi. Berikut 3 cara mengatasi inflasi beserta penjelasannya.Inflasi dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Jika tidak dikendalikan, inflasi akan tidak terkontrol sehingga dapat berdampak negatif bagi stabilitas ekonomi sebuah negara.
Inflasi yang tidak terkendali akan menurunkan daya beli masyarakat lantaran harga barang secara umum mengalami kenaikan.
Tak hanya bagi masyarakat saja, namun inflasi yang berlangsung terus-menerus rentan menciptakan uncertainty atau ketidakpastian bagi para pelaku ekonomi.
Pengertian Inflasi
Dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, inflasi sebagai kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.
Kebalikan dari inflasi adalah deflasi. Deflasi bisa diartikan sebagai penurunan harga barang dan juga jasa yang terjadi secara umum dan terus-menerus.
Cara Mengatasi Inflasi
Cara mengatasi inflasi di Indonesia (Ilustrasi Foto: iStockphoto/number1411)
Pemerintah bisa menekan laju dari inflasi dengan melakukan beberapa cara. Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini 3 cara untuk mengatasi inflasi disertai penjelasannya.
1. Kebijakan Fiskal
Cara pertama yang akan dilakukan oleh pemerintah adalah kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal ini sendiri berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran dari anggaran pemerintah.
Kebijakan fiskal ini antara lain dengan meningkatkan tarif pajak, mengurangi pengeluaran dari pemerintah, dan melakukan pinjaman.
2. Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter menjadi salah satu daricara mengatasi inflasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Kebijakan moneter atau kebijakan keuangan bisa dilakukan dengan menambah ataupun mengurangi jumlah uang yang beredar.
Hal ini dilakukan untuk menjaga kestabilan moneter dengan tujuan bisa meningkatkan kesejahteraan dari masyarakat suatu negara.
Kebijakan moneter lainnya adalah dengan melakukan kebijakan operasi pasar terbuka. Kebijakan ini bisa dilakukan dengan cara mengendalikan jumlah uang beredar.
3. Kebijakan Non-fiskal dan Non-moneter
Selain menggunakan kebijakan fiskal dan juga kebijakan moneter, pemerintah juga bisa menggunakan kebijakan non fiskal dan juga non moneter. Kebijakan nonfiskal dan nonmoneter ini dapat dilakukan dengan beberapa cara.
Setidaknya terdapat 5 cara yang termasuk ke dalam kebijakan non-fiskal dan non-moneter yang biasanya dilakukan oleh pemerintah.
a. Menambah hasil produksi
Pemerintah akan memberikan kebijakan-kebijakan yang bisa meringankan para pengusaha. Hal ini dilakukan oleh pemerintah dengan harapan para pengusaha bisa menggenjot produksi agar lebih banyak lagi.
Dengan banyaknya barang yang beredar di masyarakat, maka perputaran uang akan semakin cepat dan banyak, sehingga uang yang beredar menjadi kembali seimbang.
b. Mempermudah masuknya barang impor
Tak semua barang bisa dipenuhi oleh produsen dalam negeri, untuk itu mempermudah masuknya barang barang impor menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Hal ini bisa dilakukan dengan cara menurunkan pajak dan juga mempermudah perizinan barang impor.
c. Menstabilkan pendapatan masyarakat
Menjaga pendapatan masyarakat agar tidak naik juga bisa menjadi salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan inflasi yang tak terkendali.
d. Menetapkan harga maksimum
Pada saat terjadi inflasi, harga barang cenderung naik tak terkendali. Hal inilah yang membuat daya beli dari masyarakat menurun. Dengan menetapkan harga maksimum, pemerintah mengharap agar daya beli masyarakat menjadi lebih baik lagi.
e. Pengawasan distribusi barang
Distribusi barang yang terhambat juga menjadi salah satu faktor naiknya harga di suatu wilayah. Permintaan yang besar tidak diimbangi dengan jumlah barang yang terbatas akibat terhambatnya proses distribusi barang.
Dengan melakukan pengawasan sebagai salah satu cara mengatasi inflasi, diharapkan barang tersebut bisa cepat didistribusikan kepada masyarakat.
Minggu, 19 Juni 2022
KRISIS PARUH BAYA MANUSIA
Krisis paruh baya bukanlah mitos.
Kesimpulan ini berdasarkan analisis data dari 132 negara yang dilakukan oleh ekonom David Blanchflower.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada Januari oleh think tank asal Amerika Serikat, National Office of Economic Research, Blanchflower menunjukkan jika "kurva bahagia" berlaku di banyak negara.
Dan bisa jadi, ada hal lain selain lingkungan atau masyarakat yang membuat kita kecewa.
"Ini adalah sesuatu yang dimiliki manusia dalam gennya," kata Blanchflower kepada BBC.
Krisis paruh baya
Tim dari Universitas Edinburgh yang berada di balik penelitian ini menyebut krisis paruh baya disebabkan oleh faktor biologis ketimbang sosial.
At which point of our lives does dissatisfaction settle in?
48.2"Unhappiest age" in developing countries
47.2"Unhappiest age" in developed countries
Blanchflower, profesor di Dartmouth College, menemukan bahwa rata-rata usia di mana orang merasa paling tidak bahagia dalam hidup di negara maju adalah usia 47,2 tahun.
Sementara di negara berkembang, rata-rata usia paling tidak bahagia adalah 48,2 tahun. Ini merupakan titik terendah, namun keadaan akan membaik setelah itu. Mengapa demikian?
"Di usia 47 orang mulai merasa realistis. Mereka sudah menyadari bahwa mereka tidak akan menjadi presiden," kata ekonom tersebut. Ia menambahkan bahwa ia tidak percaya jika kita adalah satu-satunya makhluk yang merasa demikian.
"Simpanse dan orangutan juga melalui kurva U dalam kebahagiaan."
Blanchflower merujuk pada sebuah studi pada 2012 di mana 508 kera menunjukkan perasaan bahwa hidup mereka baik-baik saja mulai menurun di usia 20-an dan tengah 30-an - usia paruh baya pada kera.
Penderitaan butuh teman
Mungkin secara tak terduga, pola kurva U ini berulang di segala penjuru dunia, meski ada perbedaan ekonomi dan budaya.
Kita merasa lebih baik saat menjelang dewasa, kita menjadi semakin tidak bahagia menjelang usia 40-an dan kita menikmati perasaan hidup sedang baik-baik saja begitu mendekati usia tua.
Pada dasarnya, yang terburuk adalah di tengah-tengah, sementara momen terbaik ada di tahap awal kehidupan dan setelah usia 50.
SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES
Setelah berusia 50 tahun "Anda mulai merasa bersyukur atas apa yang Anda miliki"
Setelah 50, Blanchflower menjelaskan, "Anda mulai merasa bersyukur atas apa yang Anda miliki."
Sifat universal siklus ini ditemukan dalam 95 negara berkembang dan 37 negara maju mungkin mengherankan banyak orang.
"Jika benar jika median upah minimum tinggi atau rendah; dan di mana manusia cenderung hidup lebih lama atau lebih pendek," katanya.
Keinginan semakin berkurang
Dari kaca mata psikologi, ada beberapa teori yang dapat menjelaskan fenomena ini.
Salah satunya adalah ketika orang menua, mereka belajar untuk beradaptasi pada kelemahan dan kekuatannya. Di saat bersamaan, aspirasinya yang tidak mungkin terealisasi mulai menurun.
SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES
Di negara berkembang, 48,2 merupakan usia paling tidak bahagia.
Argumen lainnya adalah karena orang yang lebih optimis dalam hidup cenderung hidup lebih lama, seperti laporan beberapa studi akademik.
"Bisa jadi jika orang-orang yang lebih ceria hidup lebih lama ketimbang yang menderita," tulis Blanchflower di makalah tentang "Umur dan Kebahagiaan" yang berupaya menjelaskan kenapa orang yang lebih tua merasa lebih bahagia.
Selain itu ada faktor ekonomi: Blanchflower berargumen jika masa paruh baya berarti momen yang rentan, yang akan diperburuk jika orang tersebut tengah menghadapi masa ekonomi sulit seperti krisis 2008-2009.
Faktor seperti ini akan membuat tantangan hidup terasa lebih berat.
Perubahan di otak
Jonathan Rauch, seorang peneliti di Brookings Institution di Washington, juga menganalisis isu ini di buku The Curve of Happiness: Why Life Improves After 50 yang diterbitkan pada 2018.
Setelah mewawancarai pakar lintas disiplin (termasuk Blanchflower), Rauch menemukan jika otak kita mengalami perubahan saat kita menua: setiap kali otak akan semakin mengurangi fokus terhadap ambisi dan menambah fokus pada keterhubungan dengan manusia lain.
SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES
Orang yang lebih tua mulai mengurangi ekspektasi dan mengembangkan kemampuan untuk mengelola emosi.
"Ini merupakan perubahan yang sehat, tapi ada transisi yang tidak menyenangkan di tengah-tengah," tulisnya.
Rauch menggambarkan krisis di usia 40-an sebagai "celah ekspektasi", karena banyak yang menyadari bahwa cita-cita mereka terlalu ambisius.
Dalam pandangannya, anak muda terjebak dalam "kesalahan prediksi" karena mereka berharap terlalu banyak jika kebahagiaan akan mendorong pada pencapaian tujuan tertentu.
Di sisi lain, para orang tua menghapus ekspektasi ini dan mulai mengembangkan kemampuan untuk mengelola emosi.
Rauch berargumen jika tidak semua orang melalui siklus yang sama, karena faktor seperti penyakit, pengangguran, atau perceraian juga menjadi faktor.
SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES
Data dari 132 negara menunjukkan pengulangan yang konsisten dari kurva U kebahagiaan.
"Tetap saja, pola-pola yang muncul terlalu nyata untuk tidak dipertimbangkan," tulisnya.
Rauch berargumen, ketimbang mencoba untuk "melawan penurunan", kita harus menghargai kesempatan yang tercipta dengan "memahami dan mengalahkan logika yang berseberangan".
"Kurva kebahagiaan merupakan perubahan emosional yang menantang tapi transformatif yang menjauhkan kita dari kompetisi dan mendekatkan kita pada komunitas, membuka jalan baru menuju hidup yang berkecukupan dan bijaksana," tambahnya.